Pakan Alami Phronima, 40 Hari Panen Udang Windu

Oleh ABD.SALAM 27 Jul 2019, 19:18:48 WIB Perikanan Budidaya
Pakan Alami Phronima, 40 Hari Panen Udang Windu

Keterangan Gambar : Pakan alami Phronima


Sebagian besar pembudidaya tambak udang windu di kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan masih menerapkan teknologi konvensional. Sejak ditemukan makanan alami Phronima Sp beberapa tahun silam, pembudidaya makin fanatik budidayakan udang windu (Penaeus monodon). 

Ketertarikan pembudidaya terhadap komoditi udang windu selain harga jual yang terus meningkat, juga ukuran (size) kecil diminati pasar Jepang. Panen dini udang windu membawa pengaruh positif dibanding pola budidaya sebelumnya.

Udang windu sejak dahulu hingga kini merupakan salah satu komoditas unggulan sektor perikanan Kabupaten Pinrang. Produksi udang windu yang dihasilkan oleh pembudidaya di daerah ini  sangat diminati oleh pasar manca negara khususnya di  Jepang. Tak berlebihan apabila kabupaten Pinrang berobsesi untuk mengembalikan kejayaan udang windu seperti di era tahun 1980-an.

Sejak tahun 2005 ditemukan populasi Phronima Suppa (Phronima sp) jenis mikro crustacea yang hidup secara alami pada perairan tambak tertentu di desa Wiringtasi dan desa Tasiwalie kecamatan Suppa, Pinrang. Phronima sp tidak ditemukan pada tambak di luar kedua desa tersebut (Fattah dan Saenong, 2008). Pada awal ditemukannya organisme tersebut, masyarakat lokal menyebutnya sebagai were. Were berasal dari kosa kata bahasa Bugis yang bermakna anugerah, berkah atau rahmat. Phronima Suppa menjadi anugerah, berkah dan rahmat bagi pembudidaya pada saat kondisi pertambakan udang nasional mengalami keterpurukan karena degradasi mutu lingkungan, infeksi patogen dan buruknya manajemen budidaya.

Phronima Suppa kaya nutrien dan berperan penting dalam membangun sistem immunitas internal pada udang serta memperbaiki struktur tanah dan lingkungan perairan. Hasil analisis proksimat Phronima Suppa  memiliki kandungan air 15,2%,  abu 30,26%, protein 38,74%, lemak 23,58%, serat kasar 12,22% dan betn 0%  (Fattah et al.,2015).

Budidaya udang windu sistem tradisional dengan pakan alami Phronima,   petambak  membutuhkan  2-3 petakan tambak. Jumlah petakan tambak tersebut satu petakan seluas 0,25-0,35 ha digunakan sebagai petak pentongkolan benur. Sedangkan petakan lainnya (luasnya 0,50-1,00 ha) untuk  perbanyakan populasi phronima dan pembesaran udang. Untuk mengembangbiakkan phronima di tambak perlu dilakukan persiapan media yaitu mulai pengeringan lahan dan pemberantasan hama menggunakan saponin. Kemudian tambak diberi kapur bakar 500-1.000 kg/ha atau  tergantung tingkat keasaman (pH) tanah dasar tambak. Beri pupuk urea 100 kg/ha, TSP 50 kg/ha, ZA 50 kg/ha dan dedak 300 kg/ha serta pupuk cair organik sebanyak  5 liter/ha. Dedak tersebut lebih dahulu difermentasi 3-4 hari menggunakan ragi roti dan molase. Kemudian tambak diisi air sampai ketinggian 30 cm di atas pelataran tambak. Jika plankton sudah tumbuh maka tebar induk atau bibit phronima sebanyak 3 liter yang diperoleh dari stok Phronima yang ada di petakan tambak lain. Phronima yang dikultur selama 20 hari populasinya diperkirakan cukup untuk dimakan oleh  20.000 ekor udang maka tokolan udang umur 20 hari dapat dipindah ke petakan yang telah dipadati populasi  phronima.

Tokolan udang yang telah dipindah, setelah dipelihara sekitar 40 hari sudah bisa panen sebanyak 200-250 kg/ha dengan ukuran bobot 16-20 gram/ekor (50-60 ekor/kg) dengan harga Rp.70.000/kg. Jika petambak belum puas dengan harga Rp. 70.000/kg dari ukuran udang tersebut, maka udang dipindah lagi ke petakan  lain yang telah tersedia pakan alami phronima. Dalam tempo satu bonang (satu periode pasang surut) atau sekitar 10 hari, maka ukuran bobot udang sudah berubah menjadi 25-28 gram/ekor atau size 35-40 ekor/kg  dengan harga Rp. 80-95 ribu/kg. Cara seperti ini berulang dilakukan oleh petambak 3-4 kali siklus panen dalam setahun..

Tingginya produksi tambak yang menggunakan pakan alami phronima dibanding pada siklus sebelumnya tanpa phronima mengindikasikan bahwa phronima suppa dapat menyediakan nutrien, membentuk imunostimulan, dan memperbaiki lingkungan budidaya sesuai dengan kebutuhan udang windu dan sangat berperan dalam peningkatan produksi. Padahal di lahan dan padat tebar yang sama pada siklus sebelumnya tanpa pakan alami Phronima hanya memproduksi udang windu sebanyak 52 kg/ha. (Abd.Salam Atjo)




Tulis Komentar Facebook

Tuliskan komentar anda dari akun Facebook

Tulis untuk sebuah komentar

Ada 1 Komentar untuk Berita Ini

Lihat semua komentar

Tulis sebuah komentar

Loading....



Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jajak Pendapat

Materi bidang apa yang menurut anda masih kurang?
  Budidaya Perikanan
  Penangkapan Ikan
  Pengolahan Hasil Perikanan
  Metodologi Penyuluhan
  Legislasi
  Konservasi Perairan
  Pengawasan SDKP
  Lainnya

Komentar Terakhir

  • Wawan riswandi

    Semoga bermanfaat baik dari nara sumber maupun pelaku ...

    View Article

Video Terbaru

View All Video